Minggu, 17 Januari 2010

LOMPATAN YANG MENAKLUKAN KOTA DAN EGO MANUSIA


Setiap minggu pagi di bilangan Senayan, Sekumpulan orang berloncatan kesana-kemari, berjumpalitan di udara dan bergelantungan di pohon, padahal tidak ada sirkus di sekitarnya. Apa itu Parkour? Olahraga baru yang ekstrem? Salah satu Trend baru di Jakarta? Salah juga. IF Media mengulik filosofi dan kehidupan di balik Parkour, karena Parkour bukan sekedar hobi semata. Parkour is a way of life. David Belle adalah nama yang pasti disebut setiap kali sejarah Parkour dituturkan. Pria asal Perancis inilah yang mengenalkan ajaran dan filosofi Parkour kepada dunia, sebelum akhirnya di populerkan olah Yamakasi dan dibawa dari mulut ke mulut sampai ke Jakarta, Indonesia. Kiki,Nikki,Fadli dan Inno dari Parkour Jakarta menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman hidup mereka mengenai Parkour. Ketika saya menyebutkan kata “komunitas Parkour” kontan dahi mereka berkerut sejenak. Mereka enggan di sebut sebagai sebuah komunitas, karena anggota Parkour sudah sedemikian eratnya sehingga layak disebut keluarga.

Definisi utama dari Parkour itu sendiri adalah perpindahan dari titik A ke titik B dan sebaliknya secara efisien,efektif dan aman. Parkour adalah self-method disclipine yang sangat bermanfaat untuk mengembangkan diri dari segi fisik dan mental, bukan metode bermodalkan nekat semata. Dapat dikatakan bahwa Parkour adalah perpaduan yang indah dari seni dan disiplin, hasil pengembangan dari sesuatu yang sebenarnya sudah ada dalam setiap manusia sejak dahulu kala. Potensi dasar tersebut di latih, dikembangkan dan diberi perhatian khusus dalam setiap sesi latihan Parkour.

“Parkour membutuhkan disiplin tinggi karena untuk mencapai titik tertentu, harus melalui latihan intensif. Parkour di luar negeri bahkan memikirkan mengenai asupan gizi anggotanya. Kita tidak mau disebut sebagai olahraga ekstrem, karena salah satu faktor yang terpenting adalah keamanan. Kita juga memikirkan keselamatan orang lain disekitar kita, tidak asal lompat sana-sini” Fadli menjelaskan ketika di tanya apa yang membedakan Parkour dimata orang awam, dengan olahraga ekstrem lainnya.

Setiap lompatan yang dilakukan dalam Parkour dicapai melalui latihan berjam-jam, bukan hanya sekali-dua kali latihan saja. Lompatan besar tentunya di mulai dari lompatan-lompatan kecil, dan lompatan-lompatan kecil inilah yang membutuhkan kesabaran. Filosofi Parkour mengajarkan orang yang mengikutinya untuk lebih mengenal kemampuan dan kapasitas dirinya sendiri dengan membangun mental dan kepercayaan diri. Perpaduan seni dan disiplin ini hanya dapat di raih melalui motivasi yang sangat tinggi dan kesabaran yang ekstra. Parkour adalah sebuah process dan progress, setiap anggotanya diharapkan untuk terus berkembang dan tidak stagnan di satu titik terus menerus.

Konsep yang dianut Parkour sebenarnya tidak jauh berbeda dengan seleksi alam, yang di praktekan dalam semua aspek kehidupan. Mereka yang memiliki konsisten , akan terus belajar. Namun tidak sedikit didapati kejadian dimana orang-orang yang pada awalnya semangat, namun setelah mengetahui seberapa berat latihan Parkour, dedikasi mereka menciut dan menguap begitu saja. Inilah konsistensi yang diharapkan dari setiap peserta latihan, karena latihan seminggu sekali tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Dimulai dari hal-hal dasar seperti mengatur nafas agar tetap kuat menjalani latihan sesi kedua setelah digempur disesi pertama, sampai jalan merangkak yang mirip dengan gayanya Spiderman. Belum lagi latihan mendalam seperti mind mapping, balance dan intuition. Ketentuan latihan Parkour ini tidak dapat dipaksakan. Karena kapasitas orang yang berbeda-beda. Bahkan pernah ada anggota yang berat badannya 120 KG, karena rajin mengikuti latihan-latihan Parkour akhirnya menjadi 80 KG.

Ketika melihat langsung gerakan-gerakan dalam Parkour, otomatis mengingatkan saya akan gerakan-gerakan binatang yang tangkas. Ternyata, metode natural Parkour diadaptasi dari Afrika yang sejak dahulu terkenal kuat dan gesit, karena dibesarkan dilingkungannya yakni hutan belantara. Mereka sudah terbiasa jalan kaki kemana-mana, terbiasa memanjat utnuk memetik buah dan berlari-lari mengejar buruan. Pada dasarnya cara mereka bertahan hidup dibentuk oleh lingkungannya. Metode yang sama digunakan oleh Parkour. Penduduk kota metropolitan seperti anda dan saya, cenderung terbiasa menghadapi pasar swalayan dan gedung-gedung perkantoran, sehingga lupa akan konteks dan kegunaan tangan dan kaki kita. Kita lebih memilih untuk naik lift daripada tangga, atau naik mobil daripada jalan kaki.

Kemalasan inilah yang dirubah oleh Parkour. Ketakutan awal untuk belajar. Sugesti dari dalam diri sendiri, dan kemalasan untuk bergerak, faktor-faktor inilah yang harus dilawan untuk mendapatkan esensi dari Parkour yang sesungguhnya. Tempat latihan Parkour atau gym-nya Parkour adalah dimana saja kita berada. Untuk melatih Parkour, tidak perlu mencari tempat, melainkan lebih menentukan tempat. Dimanapun area kita berada dapat dijadikan tempat latihan, selama tidak mengganggu ketenangan atau keselamatan orang lain. Sama seperti seleksi alam, mereka yang senang akan terus berlatih secara intensif, hingga akhirnya memungkinkan mereka untuk bergerak cepat tanpa mengeluarkan keringat. Untuk mencapai titik tersebut, anggota Parkour diharuskan untuk mengetahui manfaat dari Parkour itu sendiri, dan tidak hanya asal belajar. Metode yang diterapkan untuk mempelajari Parkour, juga dapat diaplikasikan untuk menghadapi kesulitan dalam kehidupan sehari-hari. Ayah dari David Belle mengatakan hal yang sama pada anaknya, yang kemudian menginspirasi anaknya dan dunia, bahwa menjadi kuat itu tidak berguna, kalau tidak dipakai untuk menolong orang. Kemampuan fisik yang diperoleh dari latihan-latihan yang keras dan intensif tersebut harus dipraktekan dalam kehidupan perkotaan dan menjadi sebuah seni yang indah. Parkour bisa dibilang termasuk martial art, namun bukan untuk melawan orang lain, melainkan melawan keterbatasan diri sendiri. Lagipula tujuan utama Parkour hanya satu “be strong to be useful”

Dalam Parkour tidak ada batasan umur yang berlaku. Semua orang dari segala umur boleh mengikuti latihan Parkour. Konsep ini diterapkan karena sebenarnya kemampuan tersebut sudah ada dalam setiap manusia, hanya saja dengan bergabung di Parkour, kemampuan tersebut dapat diasah lebih lanjut bersama-sama. Meskipun demikian, tetap saja diberlakukan ajaran atau himbauan tertentu dari para senior di Parkour yang sudah mengecap asam manisnya Parkour. Memang Parkour dapat dikategorikan sebagai olahraga yang paling bebas karena tidak membutuhkan alat tertentu dan dapat dilaksanakan dimana saja, namun untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan maka ada anjuran tertentu. Contohnya, pada tahun pertama belajar, pesertanya tidak dibolehkan melakukan lompatan yang melebihi tinggi badannya.

Kompetisi adalah hal yang tabu dalam Parkour. Selama tujuan utamanya masih belajar dan untuk bersama-sama melatih mental dan mengembangkan diri, maka akan ada banyak yang dapat dipelajari. Namun ketika kesenangan itu digantikan dengan keseriusan yang kompetitif, maka akan dapat mencelakakan diri sendiri. Motivasi untuk menaklukan orang lain dinilai tidak baik, karena kompetisi tidak sesuai dengan tujuan utama Parkour, yakni to be useful. Seorang guru yang baik harus dapat menghasilkan guru-guru yang baik, bukan murid-murid yang terbaik. Itulah satu-satuya cara terbaik agar Parkour dapat diteruskan turun-temurun ke generasi selanjutnya.

Manfaat positif banyak didapatkan dari Parkour. Melawan paradigma mengenai diri sendiri, belajar berbagi ilmu, melatih kesabaran diri, membangun tingkatan baru kepercayaan diri, meredam karakter temperamental, lebih mudah berekspresi dan berkomunikasi dengan orang lain dan keluarga adalah sedikit contih dari efek positif latihan Parkour. Selain latihan fisik, Parkour juga merupakan terapi yang baik bagi hampir semua halangan dalam karakter manusia. Jadi, tidak se-ekstrim perkiraan anda semula bukan?.

Sumber : If Magazine
Written by,
Nadia Rachel

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar