Minggu, 01 Mei 2011

Performa Olahraga pada Jam 11 malam


Untuk mereka yang sibuk bekerja & punya mobilitas tinggi, olahraga bisa jadi tinggal wacana semata. Sulit untuk merealisasikan jadwal. Pulang bekerja, waktu yg tersisa biasanya dipergunakan untuk bersantai dgn keluarga dan beristirahat. Kalaupun bisa berolahraga, waktu yg tepat bisa jadi kendala.

Akhir-akhir ini timbul pertanyaan, apakah tubuh letih orang yg baru selesai bekerja, bisa dibawa berolahraga? Penelitian hubungan antara tidur & olahraga yg dilakukan di Universitas South Carolina, Columbia, membuktikan olahraga yg dilakukan malam hari sama sekali tidak mengganggu pola tidur.

Shawn Youngstedt, sang peneliti, mengatakan olahraga yg dilakukan satu setengah jam sebelum tidur memang membuat suhu tubuh meningkat, namun tidak memengaruhi kebiasaan tidur seseorang. Sementara penelitian lain di Fred Hutchinson Cancer Research Center,
Tapi Shwan Youngstedt mengatakan, olahraga di malam hari pilihan yg tersisa bagi mereka yg punya kesibukan superpadat. Daripada tidak berolahraga, bukan? Berikut manfaat & masalah yg ditemui saat berolahraga di malam hari.

- Kebanyakan temperatur tubuh & hormon mengalami level puncak pukul 6 sore. Tapi biasanya dgn berolahraga minimal 3 jam setelah atau sebelum jam itu akan memberi daya tahan tubuh & pembangunan otot.
- Otot sudah hangat dan fleksibel.
- Melepas stres sehabis bekerja / sekolah.
- Riset menunjukan, fungsi paru-paru bekerja paling baik pukul 4-5 sore.
- Dapat mengurangi nafsu makan Anda saat malam hari.
Kerugian olahraga malam
- Banyak gangguan pikiran & pekerjaan.
- suhu yg lebih dingin.

Sebuah studi baru menemukan bahwa performa puncak sering terjadi pada malam hari sehingga atlit olah raga bukan daya tahan seperti renang dan lari jarak pendek dapat memperbaiki waktu mereka jika bersaing pada jam 11 malam. Studi yang baru dipublikasikan di Journal of Applied Physiology menemukan bahwa setiap orang mempunyai irama siklus atletik yang dikontrol di hipotalamus belakang otak dan berputar setiap 24 jam. Ritme alami membantu mengatur tingkah laku dan perubahan metabolik pada performa fisik. Saat penelitian ini menunjukkan waktu daya tahan puncak, studi lain menyarankan bahwa tubuh lebih prima untuk berolahraga pada sore dan malam hari.

Christopher Kline, peneliti pada Departement of Exercise Science di Universitas South Carolina mengatakan “Mayoritas ritme tingkah laku dan fisiologi dapat mempengaruhi puncak daya tahan. Tampaknya pertemuan puncak kedua ritme yang mendorong ritme daya tahan atletik.

Yang cukup menarik perhatian dari 25 perenang yang berpartisipasi dalam studi ini, kebanyakan melaporkan daya tahan terbaiknya pada pagi hari. Namun demikian, para peneliti mencurigai siklus lain seperti tidur, makan dan cahaya matahari, dapat menutupi ritme Sirkadian atletik seseorang. Setelah faktor-faktor tadi dihilangkan, perbedaan rata-rata antara daya tahan terbaik dan terjelek dari para perenang adalah 5,84 detik, yang tampaknya tidak terlalu besar, namun bagi atlet professional dapat berarti perbedaan antara mendapatkan medali emas saat Olimpiade dan pulang dengan tangan kosong. Juara pertama dan ketiga wanita yang berkompetisi di 200 meter gaya bebas Olimpiade 2004 hanya berbeda 0,42 detik.

Berdasarkan penemuan-penemuan studi ini, Kline mendorong para atlet agar lebih memperhatikan sistem Sirkadian mereka dan membuat penyesuaian jika bepergian melewati beberapa zona waktu.

Patrick O’Connor, Profesor dan Direktur Exercise Psychology laboratory di Universitas Georgia, telah melakukan penelitian serupa. Menurutnya, “Studi ini merupakan eksperimen terbaik yang ditujukan untuk menguji pengaruh ritme Sirkardian pada daya tahan karena telah menghilangkan beberapa kekacauan yang biasanya diabaikan sebelum penelitian.”

Dia dan Kline setuju bahwa penemuan ini tidak dapat diterapkan untuk olah raga daya tahan yang dapat meningkatkan suhu tubuh inti di luar suhu maksimum harian biasa. “Pada kegiatan jangka panjang seperti lari 10 km, telah dihipotesiskan bahwa peningkatkan suhu tubuh inti membatasi daya tahan,” dijelaskan oleh O’Connor.

Untuk olah raga lain dan aktivitas atletik rutin, Kline menyarankan agar latihan, training, dan olah raga pada malam hari dapat optimal dan menghasilkan ketaatan latihan lebih baik dan efek training lebih besar.

Jadi pada umumnya olahraga malam hari itu tidak berbahaya bagi kesehatan selagi kita tahu takaran dan batasannya untuk tubuh kita sendiri, sedikitnya diperlukan waktu tidur sebanyak 6-8 jam sehari. Dengan istirahat yang cukup, tubuh memiliki kesempatan untuk mengembalikan kondisi fisik menjadi lebih segar. Sel-sel tubuh yang rusak akan cepat diperbaiki, begitu juga secara mental. Sehingga, seseorang tidak akan mengalami stres akibat terlalu lelah.

Sumber : Prevention Indonesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar