Selasa, 17 Agustus 2010

Kita dilahirkan untuk berlari



Kita dilahirkan untuk berlari. Menurut riset terbaru, tubuh manusia dirancang dan mengalami evolusi untuk bisa berlari jarak jauh. Kemampuan inilah yang memungkinkan nenek moyang kita menaklukkan padang-padang di Afrika.
Dikatakan para ilmuwan, lari jarak jauh mungkin merupakan hasil adaptasi yang lebih signifikan dibanding berjalan dengan kedua kaki. Berjalan sendiri merupakan kemampuan yang mulai muncul seiring dengan hadirnya hominid-hominid pertama sekitar 6 juta tahun lalu.
Memang benar bahwa kita tidak bisa mengungguli mamalia-mamalia berkaki empat yang bisa berlari cepat. Manusia paling cepat hanya bisa berlari dengan laju 10 meter/detik dalam waktu hanya 15 detik. Sedangkan kuda dan anjing bisa mencapai dua kali kecepatan itu selama beberapa menit.
Meski begitu, para antropolog menunjukkan betapa kita beradaptasi dengan baik untuk lari ketahanan jarak jauh. Demikian dikatakan ahli biologi Dennis Bramble dari Universitas Utah, dan rekannya, Dan Lieberman dari Harvard University.
Bokong besar
"Kaki kita memiliki banyak tendon yang tidak didapati pada primata lain," kata Lieberman. "Anda tidak menggunakan tendon Achilles ketika berjalan, namun tendon itu penting saat berlari. Otot-otot bokong kita, yang ukuran besarnya merupakan ciri khas pada manusia, juga merupakan sesuatu yang vital untuk berlari karena membantu menyeimbangkan tubuh dan menjaganya agar tidak terlalu condong ke depan."
Namun otot-otot bokong tersebut juga tidak begitu vital untuk berjalan, artinya kita memang lebih dirancang untuk berlari. Selain itu, pelari juga harus menjaga agar suhu tubuhnya tetap dingin, suatu hal yang menjelaskan mengapa kita memiliki banyak kelenjar keringat dan kulit yang tidak berbulu.
Beberapa adaptasi ini terlihat pula pada Homo erectus, hominid yang hidup sekitar 2 juta tahun lalu. Kaki panjang, lengan pendek, dan bahu rendah Homo erectus, dan juga manusia modern, cocok dengan tuntutan untuk berlari. Sementara kebalikannya, hominid-hominid sebelumnya, seperti australopithecines memiliki proporsi kaki yang lebih mirip simpanse.
Dibandingkan dengan simpanse, manusia modern memiliki sambungan-sambungan kaki yang besar sesuai massa tubuhnya. Ini membantu kita menahan tekanan yang terjadi saat berlari.
Lari jarak jauh kini dianggap sebagai olah raga, namun menurut Lieberman ia berperan penting dalam evolusi manusia. Tidak seperti mamalia atau primata lain, kita dapat berlari sejauh berkilo-kilometer. Kemampuan itu barangkali memungkinkan manusia awal memperoleh daging dari bangkai hewan sebelum hewan seperti hyena datang.
"Sebelum ada tombak, busur, dan panah, manusia mengalami waktu-waktu dimana mereka harus berlari untuk hidup, dan merekalah yang menurunkan kemampuan itu pada kita," ujar Lieberman. (newscientist.com/wsn)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar