Minggu, 29 September 2013

Diet Alkalin, Bikin Langsing & Penuh Energi



Ada banyak cara untuk menurunkan berat badan. Tahun 2013 ini, Alkaline Diet atau diet alkaline menjadi salah satu jenis diet yang makin populer dan seolah memberikan cara baru untuk langsing yang lebih menjanjikan. Metode ini tidak hanya menjaga tubuh tetap proporsional tapi juga bermanfaat untuk mencegah penyakit lainnya.

Program diet baru ini seperti menggabungkan semua program diet sukses yang berhasil diterapkan oleh sejumlah selebritas seperti Victoria Beckham, Kristen Dunst, Gwyneth Paltrow, dan juga buku-buku resep best-seller.

Dirilis baru-baru ini oleh Honestly Healthy Alkaline Programme, diet alkaline lebih menekankan pada konsumsi makanan yang tetap menjaga pH tubuh di level normal 7,35 sampai 7,45. Khasiatnya selain menjaga bentuk tubuh juga berkhasiat mengatasi persoalan insomnia, mood, dan ingatan, keseimbangan hormon dan daya tahan tubuh, serta menguatkan rambut, kuku, dan gigi.

Bagaimana dan apa saja bentuk program diet ini?

Diet alkalin berangkat dari pandangan akan kandungan alkalin di dalam darah. Teorinya, semua makanan yang dikonsumsi seperti daging, pasta, atau nasi dengan kandungan asam tinggi akan mengganggu keseimbangan alkalin (pH tinggi), dan itu bisa memicu naiknya berat badan.

Ahli nutrisi Dr Elisabeth Phillips mengungkapkan bahwa yang paling penting dalam program diet adalah keseimbangan. Bukannya Anda harus menghindari semua jenis makanan yang mengandung asam, tapi mengurangi porsinya menjadi lebih sedikit. Makanan yang mengandung gula, alkohol, dan yang merupakan makanan olahan pabrik dianjurkan untuk dihindari. Sebagai gantinya, pilih makanan sehat seperti buah dan sayur.

Tujuan dari diet alkalin ini adalah 70 persen makanan alkalin, dan 30 persen makanan asam. Jadi penghitungannya tidak lagi berapa jumlah kalori yang dimakan tapi berdasar jenis makanannya. Ahli nutrisi dan diet Sam Perkins mengatakan, diet jenis akalin ini tidak lantas menghalangi orang untuk makan makanan tertentu, tapi lebih pada kebiasaan mengonsumsi asupan bernutrisi untuk jangka hidup yang lebih panjang.

Hasil dari upaya diet ini akan tampak kentara dan dapat dirasakan terutama dari peningkatan energi, lalu berat badan dan kulit menjadi lebih sehat. Mengonsumsi makanan yang mengandung alkalin ini selama sebulan akan membuat stamina dan energi terasa bertambah, di samping itu juga membuat kulit lebih terjaga dari tanda-tanda penuaan.

Dengan mengonsumsi jenis makanan tertentu yang bersifat alami, tubuh akan menurunkan jumlah kalori yang ada, dan berarti turut menjaga berat badan tetap ideal. Bagi yang mengalami kelebihan berat badan akan terjadi penurunan karena menjadi lebih sehat.

Dalam diet alkalin ini, makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi di antaranya buah dan sayuran, serta mengurangi makanan yang mengandung banyak gula. Bisa dibilang mendekati gaya hidup semi vegetarian.

Dengan alkaline diet, Anda akan memperoleh kekebalan tubuh yang lebih baik. Proses penuaan pun dapat diperlambat. Apalagi, mengonsumsi makanan bersifat basa dipercaya dapat membuat gigi dan gusi menjadi lebih sehat. Namun, semua manfaat tersebut belum dibuktikan secara ilmiah.

Bagaimanapun juga, jangan berlebihan melakukan diet ini. Makanan bersifat asam tetap diperlukan, misalnya lemak dan minyak tertentu yang mengandung asam lemak esensial. Karena dapat menjaga kekebalan dan menyehatkan sel tubuh, disarankan komposisi 80:20 untuk makanan bersifat basa banding makanan bersifat asam.

Apa saja makanan yang bersifat asam, dan mana saja yang bersifat basa? Sebenarnya terdapat salah kaprah di masyarakat awam. Selama ini, makanan yang terasa asam dianggap dapat membentuk efek asam pula dalam tubuh. “Padahal yang dimaksud adalah pengaruh makanan setelah tertelan (bukan di lidah, red.),” ujar ahli gizi klinis, Dr. Nupur Krishnan.

Makanan 'asam' menambahkan ion hidrogen ke dalam tubuh, sehingga tubuh semakin bersifat asam. Sebaliknya, makanan alkaline justru menghilangkan ion hidrogen sehingga dapat mengurangi kadar asam dalam tubuh.

Inilah daftar makanan asam dan basa:

Asam:
Jagung, lentil, zaitun, kentang, lemak hewan, minyak nabati, oat, beras, gandum, daging sapi, ayam, domba, tiram, lobster, susu, mentega, keju, es krim, margarin, gula, saus salad botolan, pemanis buatan, dan cuka masak.

Basa:
Brokoli, wortel, kembang kol, mentimun, terung, bawang putih, tomat, asparagus, bayam, kelapa, apel, aprikot, alpukat, pisang, blackberry, jeruk Bali, anggur, lemon, jeruk nipis, muskmelon, jeruk, almond, air putih, teh herbal dan teh hijau, minyak zaitun, minyak flax seed, cuka apel, molasses, rempah, sirup maple dan madu organik.

Sumber : detik

Kamis, 09 Agustus 2012

KENAPA DOKTER DI NEGARA BARAT PELIT MEMBERIKAN OBAT KEPADA ANAK YANG SAKIT (PENTING UNTUK ORANGTUA)

Malik tergolek lemas. Matanya sayu. Bibirnya pecah-pecah. Wajahnya kian tirus. Di mataku ia berubah seperti anak dua tahun kurang gizi. Biasanya aku selalu mendengar celoteh dan tawanya di pagi hari. Kini tersenyum pun ia tak mau. Sesekali ia muntah. Dan setiap melihatnya muntah, hatiku …tergores-gores rasanya. Lambungnya diperas habis-habisan seumpama ampas kelapa yang tak lagi bisa mengeluarkan santan. Pedih sekali melihatnya terkaing-kaing seperti itu.
Waktu itu, belum sebulan aku tinggal di Belanda, dan putraku Malik terkena demam tinggi. Setelah tiga hari tak juga ada perbaikan aku membawanya ke huisart (dokter keluarga) kami, dokter Knol namanya.
“Just wait and see. Don’t forget to drink a lot. Mostly this is a viral infection.” kata dokter tua itu.

“Ha? Just wait and see? Apa dia nggak liat anakku dying begitu?” batinku meradang. Ya…ya…aku tahu sih masih sulit untuk menentukan diagnosa pada kasus demam tiga hari tanpa ada gejala lain. Tapi masak sih nggak diapa-apain. Dikasih obat juga enggak! Huh! Dokter Belanda memang keterlaluan! Aku betul-betul menahan kesal.
“Obat penurun panas Dok?” tanyaku lagi.
“Actually that is not necessary if the fever below 40 C.”
Waks! Nggak perlu dikasih obat panas? Kalau anakku kenapa-kenapa memangnya dia mau nanggung? Kesalku kian membuncah.
Tapi aku tak ingin ngeyel soal obat penurun panas. Sebetulnya di rumah aku sudah memberi Malik obat penurun panas, tapi aku ingin dokter itu memberi obat jenis lain. Sudah lama kudengar bahwa dokter disini pelit obat. Karena itu aku membawa setumpuk obat-obatan dari Indonesia, termasuk obat penurun panas.
Dua hari kemudian, demam Malik tak kunjung turun dan frekuensi muntahnya juga bertambah. Aku segera kembali ke dokter. Tapi si dokter tetap menyuruhku wait and see. Pemeriksaan laboratorium baru akan dilakukan bila panas anakku menetap hingga hari ke tujuh.
“Anakku ini suka muntah-muntah juga Dok,” kataku.
Lalu si dokter menekan-nekan perut anakku. “Apakah dia sudah minum suatu obat?”
Aku mengangguk. “Ibuprofen syrup Dok,” jawabku.
Eh tak tahunya mendengar jawabanku, si dokter malah ngomel-ngomel,”Kenapa kamu kasih syrup Ibuprofen? Pantas saja dia muntah-muntah. Ibuprofen itu sebaiknya tidak diberikan untuk anak-anak, karena efeknya bisa mengiritasi lambung. Untuk anak-anak lebih baik beri paracetamol saja.”
Huuh! Walaupun dokter itu mengomel sambil tersenyum ramah, tapi aku betul-betul jengkel dibuatnya. Jelek-jelek begini gue lulusan fakultas kedokteran tau! Nah kalau buat anak nggak baik kenapa di Indonesia obat itu bertebaran! Batinku meradang.
Untungnya aku masih bisa menahan diri. Tapi setibanya dirumah, suamiku langsung menjadi korban kekesalanku.”Lha wong di Indonesia, dosenku aja ngasih obat penurun panas nggak pake diukur suhunya je. Mau 37 keq, 38 apa 39 derajat keq, tiap ke dokter dan bilang anakku sakit panas, penurun panas ya pasti dikasih. Sirup ibuprofen juga dikasih koq ke anak yang panas, bukan cuma parasetamol. Masa dia bilang ibuprofen nggak baik buat anak!” Seperti rentetan peluru, kicauanku bertubi-tubi keluar dari mulutku.
“Mana Malik nggak dikasih apa-apa pulak, cuma suruh minum parasetamol doang, itu pun kalau suhunya diatas 40 derajat C! Duuh memang keterlaluan Yah dokter Belanda itu!”
Suamiku menimpali, “Lho, kalau Mama punya alasan, kenapa tadi nggak bilang ke dokternya?”
Aku menarik napas panjang. “Hmm…tadi aku sudah kadung bete sama si dokter, rasanya ingin buru-buru pulang saja. Tapi…alasannya apa ya?”
Mendadak aku kebingungan. Aku akui, sewaktu praktek menjadi dokter dulu, aku lebih banyak mencontek apa yang dilakukan senior. Tiga bulan menjadi co-asisten di bagian anak memang membuatku kelimpungan dan belajar banyak hal, tapi hanya secuil-secuil ilmu yang kudapat. Persis seperti orang yang katanya travelling keliling Eropa dalam dua minggu. Menclok sebentar di Paris, lalu dua hari pergi ke Roma. Dua hari di Amsterdam, kemudian tiga hari mengunjungi Vienna. Puas beberapa hari berdiam di Berlin dan Swiss, kemudian waktu habis. Tibalah saatnya pulang lagi ke Indonesia. Tampaknya orang itu sudah keliling Eropa, padahal ia hanya mengunjungi ibukota utama saja. Masih banyak sekali negara dan kota-kota di Eropa yang belum disambanginya. Dan itu lah yang terjadi pada kami, pemuda-pemudi fresh graduate from the oven Fakultas Kedokteran. Malah kadang-kadang apa yang sudah kami pelajari dulu, kasusnya tak pernah kami jumpai dalam praktek sehari-hari. Berharap bisa memberikan resep cespleng seperti dokter-dokter senior, akhirnya kami pun sering mengintip resep ajian senior!
Setelah Malik sembuh, beberapa minggu kemudian, Lala, putri pertamaku ikut-ikutan sakit. Suara Srat..srut..srat srut dari hidungnya bersahut-sahutan. Sesekali wajahnya memerah gelap dan bola matanya seperti mau copot saat batuknya menggila. Kadang hingga bermenit-menit batuknya tak berhenti. Sesak rasanya dadaku setiap kali mendengarnya batuk. Suara uhuk-uhuk itu baru reda jika ia memuntahkan semua isi perut dan kerongkongannya. Duuh Gustiiii…kenapa tidak Kau pindahkan saja rasa sakitnya padaku Nyerii rasanya hatiku melihat rautnya yang seperti itu. Kuberikan obat batuk yang kubawa dari Indonesia pada putriku. Tapi batuknya tak kunjung hilang dan ingusnya masih meler saja. Lima hari kemudian, Lala pun segera kubawa ke huisart. Dan lagi-lagi dokter itu mengecewakan aku.
“Just drink a lot,” katanya ringan.
Aduuuh Dook! Tapi anakku tuh matanya sampai kayak mata sapi melotot kalau batuk, batinku kesal.
“Apa nggak perlu dikasih antibiotik Dok?” tanyaku tak puas.
“This is mostly a viral infection, no need for an antibiotik,” jawabnya lagi.
Ggrh…gregetan deh rasanya. Lalu ngapain dong aku ke dokter, kalo tiap ke dokter pulang nggak pernah dikasih obat. Paling enggak kasih vitamin keq! omelku dalam hati.
“Lalu Dok, buat batuknya gimana Dok? Batuknya tuh betul-betul terus-terusan,” kataku ngeyel.
Dengan santai si dokter pun menjawab,”Ya udah beli aja obat batuk Thyme syrop. Di toko obat juga banyak koq.”
Hmm…lumayan lah… kali ini aku pulang dari dokter bisa membawa obat, walau itu pun harus dengan perjuangan ngeyel setengah mati dan walau ternyata isi obat Thyme itu hanya berisi ekstrak daun thyme dan madu.
“Kenapa sih negara ini, katanya negara maju, tapi koq dokternya kayak begini.” Aku masih saja sering mengomel soal huisart kami kepada suamiku. Saat itu aku memang belum memiliki waktu untuk berintim-intim dengan internet. Jadi yang ada di kepalaku, cara berobat yang betul adalah seperti di Indonesia. Di Indonesia, anak-anakku punya langganan beberapa dokter spesialis anak. Dokter-dokter ini pernah menjadi dosenku ketika aku kuliah. Maklum, walaupun aku lulusan fakultas kedokteran, tapi aku malah tidak pede mengobati anakanakku sendiri. Dan walaupun anak-anakku hanya menderita penyakit sehari-hari yang umum terjadi pada anak seperti demam, batuk pilek, mencret, aku tetap membawa mereka ke dokter anak. Meski baru sehari, dua atau tiga hari mereka sakit, buru-buru mereka kubawa ke dokter. Tak pernah aku pulang tanpa obat. Dan tentu saja obat dewa itu, sang antibiotik, selalu ada dalam kantong plastik obatku.
Tak lama berselang putriku memang sembuh. Tapi sebulan kemudian ia sakit lagi. Batuk pilek putriku kali ini termasuk ringan, tapi hampir dua bulan sekali ia sakit. Dua bulan sekali memang lebih mendingan karena di Indonesia dulu, hampir tiap dua minggu ia sakit. Karena khawatir ada yang tak beres, lagi-lagi aku membawanya ke huisart.
“Dok anak ini koq sakit batuk pilek melulu ya, kenapa ya Dok.?
Setelah mendengarkan dada putriku dengan stetoskop, melihat tonsilnya, dan lubang hidungnya,huisart-ku menjawab,”Nothing to worry. Just a viral infection.”
Aduuuh Doook… apa nggak ada kata-kata lain selain viral infection seh! Lagilagi aku sebal.
“Tapi Dok, dia sering banget sakit, hampir tiap sebulan atau dua bulan Dok,” aku ngeyel seperti biasa.
Dokter tua yang sebetulnya baik dan ramah itu tersenyum. “Do you know how many times normally children get sick every year?”
Aku terdiam. Tak tahu harus menjawab apa. “enam kali,” jawabku asal.
“Twelve time in a year, researcher said,” katanya sambil tersenyum lebar. “Sebetulnya kamu tak perlu ke dokter kalau penyakit anakmu tak terlalu berat,” sambungnya.
Glek! Aku cuma bisa menelan ludah. Dijawab dengan data-data ilmiah seperti itu, kali ini aku pulang ke rumah dengan perasaan malu. Hmm…apa aku yang salah? Dimana salahnya? Ah sudahlah…barangkali si dokter benar, barangkali memang aku yang selama ini kurang belajar.
Setelah aku bisa beradaptasi dengan kehidupan di negara Belanda, aku mulai berinteraksi dengan internet. Suatu saat aku menemukan artikel milik Prof. Iwan Darmansjah, seorang ahli obat-obatan dari Fakultas Kedokteran UI. Bunyinya begini: “Batuk – pilek beserta demam yang terjadi sekali-kali dalam 6 – 12 bulan sebenarnya masih dinilai wajar. Tetapi observasi menunjukkan bahwa kunjungan ke dokter bisa terjadi setiap 2 – 3 minggu selama bertahun-tahun.” Wah persis seperti yang dikatakan huisartku, batinku. Dan betul anak-anakku memang sering sekali sakit sewaktu di Indonesia dulu.
“Bila ini yang terjadi, maka ada dua kemungkinan kesalahkaprahan dalam penanganannya,” Lanjut artikel itu. “Pertama, pengobatan yang diberikan selalu mengandung antibiotik. Padahal 95% serangan batuk pilek dengan atau tanpa demam disebabkan oleh virus, dan antibiotik tidak dapat membunuh virus. Di lain pihak, antibiotik malah membunuh kuman baik dalam tubuh, yang berfungsi menjaga keseimbangan dan menghindarkan kuman jahat menyerang tubuh. Ia juga mengurangi imunitas si anak, sehingga daya tahannya menurun. Akibatnya anak jatuh sakit setiap 2 – 3 minggu dan perlu berobat lagi.
Lingkaran setan ini: sakit –> antibiotik-> imunitas menurun -> sakit lagi, akan membuat si anak diganggu panas-batuk-pilek sepanjang tahun, selama bertahun-tahun.”
Hwaaaa! Rupanya ini lah yang selama ini terjadi pada anakku. Duuh…duuh..kemana saja aku selama ini sehingga tak menyadari kesalahan yang kubuat sendiri pada anak-anakku. Eh..sebetulnya..bukan salahku dong. Aku kan sudah membawa mereka ke dokter spesialis anak. Sekali lagi, mereka itu dosenku lho! Masa sih aku tak percaya kepada mereka. Dan rupanya, setelah di Belanda ‘dipaksa’ tak lagi pernah mendapat antibiotik untuk penyakit khas anak-anak sehari-hari, sekarang kondisi anak-anakku jauh lebih baik. Disini, mereka jadi jarang sakit, hanya diawal-awal kedatangan saja mereka sakit.
Kemudian, aku membaca lagi artikel-artikel lain milik prof Iwan Darmansjah. Dan di suatu titik, aku tercenung mengingat kata-kata ‘pengobatan rasional’. Lho…bukankah dulu aku juga pernah mendapatkan kuliah tentang apa itu pengobatan rasional. Hey! Lalu kemana perginya ingatan itu? Jadi, apa yang selama ini kulakukan, tidak meneliti baik-baik obat yang kuberikan pada anak-anakku, sedikit-sedikit memberi obat penurun panas, sedikit-sedikit memberi antibiotik, baru sehari atau dua hari anak mengalami sakit ringan seperti, batuk, pilek, demam, mencret, aku sudah panik dan segera membawa anak ke dokter, serta sedikit-sedikit memberi vitamin. Rupanya adalah tindakan yang sama sekali tidak rasional! Hmm… kalau begitu, sistem kesehatan di Belanda adalah sebuah contoh sistem yang menerapkan betul apa itu pengobatan rasional.
Belakangan aku pun baru mengetahui bahwa ibuprofen memang lebih efektif menurunkan demam pada anak, sehingga di banyak negara termasuk Amerika Serikat, ibuprofen dipakai secara luas untuk anakanak. Tetapi karena resiko efek sampingnya lebih besar, Belgia dan Belanda menetapkan kebijakan lain. Walaupun obat ibuprofen juga tersedia di apotek dan boleh digunakan untuk usia anak diatas 6 bulan, namun di kedua negara ini, parasetamol tetap dinyatakan sebagai obat pilihan pertama pada anak yang mengalami demam. “Duh, untung ya Yah aku nggak bilang ke huisart kita kalo aku ini di Indonesia adalah seorang dokter. Kalo iya malu-maluin banget nggak sih, ketauan begonya hehe,” kataku pada suamiku.
Jadi, bagaimana dengan para orangtua di Indonesia? Aku tak ingin berbicara terlalu jauh soal mereka-mereka yang tinggal di desa atau orang-orang yang terpinggirkan, ceritanya bisa lain. Karena kekurangan dan ketidakmampuan, untuk kasus penyakit anak sehari-hari, orang-orang desa itu malah relatif ‘terlindungi’ dari paparan obat-obatan yang tak perlu. Sementara kita yang tinggal di kota besar, yang cukup berduit, sudah melek sekolah, internet dan pengetahuan, malah kebanyakan selalu dokter-minded dan gampang dijadikan sasaran oleh perusahaan obat dan media. Batuk pilek sedikit ke dokter, demam sedikit ke dokter, mencret sedikit ke dokter. Kalau pergi ke dokter lalu tak diberi obat, biasanya kita malah ngomel-ngomel, ‘memaksa’ agar si dokter memberikan obat. Iklan-iklan obat pun bertebaran di media, bahkan tak jarang dokter-dokter ‘menjual’ obat tertentu melalui media. Padahal mestinya dokter dilarang mengiklankan suatu produk obat.
Dan bagaimana pula dengan teman-teman sejawatku dan dosen-dosenku yang kerap memberikan antibiotik dan obat-obatan yang tidak perlu pada pasien batuk, pilek, demam, mencret? Malah aku sendiri dulu pun melakukannya karena nyontek senior. Apakah manfaatnya lebih besar dibandingkan resikonya? Tentu saja tidak. Biaya pengobatan membengkak, anak malah gampang sakit dan terpapar obat yang tak perlu. Belum lagi bahaya besar jelas mengancam seluruh umat manusia: superbug, resitensi antibiotik! Tapi mengapa semua itu terjadi?
Duuh Tuhan, aku tahu sesungguhnya Engkau tak menyukai sesuatu yang sia-sia dan tak ada manfaatnya. Namun selama ini aku telah alpa. Sebagai orangtua, bahkan aku sendiri yang mengaku lulusan fakultas kedokteran ini, telah terlena dan tak menyadari semuanya. Aku tak akan eling kalau aku tidak menyaksikan sendiri dan tidak tinggal di negeri kompeni ini. Apalagi dengan masyarakat awam, para orangtua baru yang memiliki anak-anak kecil itu. Jadi bagaimana mengurai keruwetan ini seharusnya? Uh! Memikirkannya aku seperti terperosok ke lubang raksasa hitam. Aku tak tahu, sungguh!
Tapi yang pasti kini aku sadar…telah terjadi kesalahan paradigma pada kebanyakan kita di Indonesia dalam menghadapi anak sakit. Disini aku sering pulang dari dokter tanpa membawa obat. Aku ke dokter biasanya ‘hanya’ untuk konsultasi, memastikan diagnosa penyakit anakku dan penanganan terbaiknya, serta meyakinkan diriku bahwa anakku baik-baik saja.
Tapi di Indonesia, bukankah paradigma yang masih kerap dipegang adalah ke dokter = dapat obat? Sehingga tak jarang dokter malah tidak bisa bertindak rasional karena tuntutan pasien. Aku juga sadar sistem kesehatan di Indonesia memang masih ruwet. Kebijakan obat nasional belum berpihak pada rakyat. Perusahaan obat bebas beraksi‘ tanpa ada peraturan dan hukum yang tegas dari pemerintah. Dokter pun bebas meresepkan obat apa saja tanpa ngeri mendapat sangsi. Intinya, sistem kesehatan yang ada di Indonesia saat ini membuat dokter menjadi sulit untuk bersikap rasional.
Lalu dimana ujung pangkal salahnya? Ah rasanya percuma mencari-cari ujung pangkal salahnya. Menunjuk siapa yang salah pun tak ada gunanya. Tapi kondisi tersebut jelas tak bisa dibiarkan. Siapa yang harus memulai perubahan? Pemerintah, dokter, petugas kesehatan, perusahaan obat, tentu semua harus berubah. Namun, dalam kondisi seperti ini, mengharapkan perubahan kebijakan pemerintah dalam waktu dekat sungguh seperti pungguk merindukan bulan. Yang pasti, sebagai pasien kita pun tak bisa tinggal diam. Siapa bilang pasien tak punya kekuatan untuk merubah sistem kesehatan? Setidaknya, bila pasien ‘bergerak’, masalah kesehatan di Indonesia, utamanya kejadian pemakaian obat yang tidak rasional dan kesalahan medis tentu bisa diturunkan.
Dikutip dari buku “Smart Patient” karya dr. Agnes Tri Harjaningrum

Rabu, 13 Juni 2012

7 Health Benefits of Going Barefoot Outside


Even though we've come to think of them as a vital part of our lives, only 20 percent of the world's population today wears shoes. Although in western society, shoes are necessary in certain situations, now that spring is here, and summer is on its way, there’s nothing stopping you from finding a park or beach, taking your shoes off and going for a barefoot stroll. The benefits might surprise you.


1. Clear Your Mind

It’s hard not to pay attention to every step when you’re walking barefoot. You have to be on the look out for sharp rocks and thorns. Awareness of what’s in front of you in this moment quiets your inner chatter and clears your mind and helps you focus on the here and now.

2. It’s Free Foot Yoga

Walking barefoot strengthens and stretches the muscles, tendons and ligaments in your feet, ankles and calves. This helps prevent injury, knee strain and back problems. Not only that, but because it works muscles not used when you’re wearing shoes, it strengthens and stretches your core, helping keep your posture upright, and your balance spot on.

3. It’s a Free Reflexology Session.

There are reflex points to every part of your body in your feet. Every little bump and rock in the road helps to stimulate all these little reflex points. If it hurts at first – especially in specific areas, this means your feet need the stimulation they’re getting by being barefoot. Over time, these sensitivities will go away, and the areas the tenderness corresponds to will be rejuvenated, helping decrease the symptoms of whatever it is that ails you.

4. Decrease Anxiety & Depression.

Walking barefoot in the grass can help decrease anxiety and depression by 62 percent, and increases the levels of those feel good endorphins. Awesome!

5. Get a Good Night's Sleep.

The ancients believed that walking barefoot in the grass was the best cure for insomnia, and many people still swear by it today.

6. It’s Grounding. Literally.

Our bodies are made up of about 60 percent water, which is great for conducting electricity. The earth has a negative ionic charge. Going barefoot grounds our bodies to that charge. Negative Ions have been proven to detoxify, calm, reduce inflammation, synchronise your internal clocks, hormonal cycles and physiological rhythms. The best places to get some negative ions through your feet are by the water. Everyone knows how good it feels to be barefoot on the beach – now we know why!

7. Get Back to What Matters.

To be barefoot outside doesn’t just involve your feet – the rest of you has to be outside too. You get to connect with Mother Nature all around. Feel the sunshine on your face; hear the wind in the trees. It’s easier to connect to a higher power when you’re in touch with Nature; it’s easier to put things into perspective.

Who knew something as simple as a barefoot walk could be so good for you – mind, body and soul.

Source : http://www.mindbodygreen.com
Writer : Stephanie Slon
About Stephanie Slon
Stephanie Slon is a Reflexologist and Reiki practitioner living in Grande Prairie Alberta. You can read more of her work on stephsreflexology.com, or follow her on twitter @stephsreflex.

Kamis, 02 Februari 2012

Vitamin D dan Kesehatan Tulang


Fungsi Vitamin D

Vitamin D sangat penting bagi kesehatan tulang karena berperan dalam penyerapan kalsium di lambung dan saluran pencernaan. Tanpa vitamin D yang cukup, tubuh kita tidak akan mampu menyerap kalsium dengan baik sehingga memiliki tulang yang lemah. Vitamin D adalah pro-hormon yang digunakan tubuh kita untuk mengangkut kalsium dari pencernaan melalui darah menuju ke tulang, jantung, otak, paru-paru dan organ lain yang memerlukannya.
Sumber Vitamin D

Vitamin D adalah vitamin yang larut di lemak yang secara alami hanya tersedia pada sedikit sekali jenis makanan. Vitamin D2 (ergocalciferol) terdapat pada beberapa tumbuhan dan jamur. Beberapa jenis ikan yang berlemak, seperti ikan cod, tuna dan salmon, mengandung vitamin D2 karena mereka memakan alga yang mengolah vitamin D dengan bantuan sinar matahari.

Vitamin D3 (cholecalciferol) diproduksi tubuh ketika sinar ultraviolet mengenai kulit kita dan merangsang produksinya. Untuk mendapatkan vitamin D3 yang memadai, paparkan kulit Anda di sinar matahari selama 10-15 menit beberapa kali seminggu. Radiasi yang mengubah vitamin D di kulit memiliki panjang gelombang yang sama dengan yang menyebabkan kulit menghitam, karena itu penggunaan tabir surya akan menghambat produksi vitamin D. Seiring penuaan, efektivitas kulit dalam memproduksi vitamin D semakin berkurang.

Vitamin D yang berasal dari makanan, suplemen dan paparan sinar matahari bersifat inaktif secara biologis sehingga harus menjalani dua proses hidroksilasi di dalam tubuh untuk mengaktifkannya. Proses pertama terjadi di hati dan mengubah vitamin D menjadi 25-hidroksivitamin D [25(OH)D], juga dikenal sebagai calcidiol. Calcidiol paling banyak tersedia di dalam tubuh dibandingkan bentuk vitamin D lainnya. Proses kedua terjadi terutama di ginjal dan membentuk zat aktif 1,25-dihidroksivitamin D [1,25(OH)2D], dikenal juga sebagai calcitriol. Inilah bentuk vitamin D yang membantu penyerapan kalsium.

Hati dan ginjal kita sangat berperan dalam pengubahan dari bentuk vitamin D yang inaktif menjadi aktif. Alasan utama mengapa alkohol memperburuk kondisi tulang adalah efek negatifnya terhadap hati. Beberapa penyakit ginjal juga menjadi pemicu terjadinya osteoporosis. Beberapa riset, misalnya, menunjukkan bahwa pasien yang menderita urolithiasis (proses pembentukan batu di ginjal, kandung kemih dan uretra) memiliki massa tulang yang lebih rendah dibandingkan rata-rata.
Mencegah Osteoporosis dengan Vitamin D

Osteoporosis dapat dicegah dengan asupan vitamin D harian sebesar 200-400 unit. Banyak multivitamin dan suplemen kalsium yang juga mengandung vitamin D. Rata-rata satu tablet multivitamin tersebut mengandung 400 IU vitamin D. Karena itu satu tablet multivitamin setiap hari sudah cukup memenuhi kebutuhan vitamin D Anda.

Perlu diketahui bahwa dalam proses pengubahan calcidiol menjadi calcitrol, hormon paratiroid (PTH)-lah yang merangsang ginjal melakukan proses itu. Bila Anda memiliki terlalu banyak calcidiol di dalam tubuh, akan terlalu banyak hormon paratiroid yang dilepaskan. Karena hormon tersebut juga merangsang pembentukan osteoclast (sel-sel yang melarutkan tulang), terlalu banyak PTH akan menyebabkan pengeroposan tulang. Karena itu, terlalu banyak vitamin D juga tidak baik bagi tulang Anda.

Senin, 21 November 2011

Manfaat melakukan peregangan di pagi hari


Sebagian besar orang tidak memiliki banyak waktu di pagi hari untuk berolahraga. Tapi sebaiknya luangkan sedikit waktu untuk lakukan peregangan, karena ada manfaat yang bisa didapatkan.

Salah satu respons normal yang dilakukan ketika bangun di pagi hari adalah memberikan bentangan panjang dari tubuh yang menyenangkan dan berfungsi untuk meremajakan indera serta meningkatkan fleksibilitas dalam sendi.

Ketika melakukan peregangan, mulailah secara perlahan dan menghembuskan napas secara teratur dan teratur setiap melakukan peregangan di kelompok otot tertentu. Tahan peregangan yang dilakukan antara 10-30 detik dan cukup dilakukan selama 10 menit sehari untuk bisa meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

Selain itu ada beberapa manfaat lain yang bisa didapatkan dengan melakukan peregangan atau streching secara rutin di pagi hari, seperti dikutip dari Livestrong, Selasa (22/11/2011) yaitu:

1. Meningkatkan aliran darah
Ketika melakukan peregangan maka aliran darah ke otot termasuk otak akan meningkat. Kondisi ini membantu merangsang indera dan meningkatkan konsentrasi menjadi lebih tajam.

Dalam beberapa kasus, peningkatan aliran darah ke otot ini bisa memberikan energi yang optimal di pagi hari yang dapat membantu mencegah kelelahan dan kelesuan di jam-jam pagi hari. Selain itu bisa mengurangi ketegangan sepanjang hari.

2. Relaksasi otot
Peregangan juga bisa membantu membuat otot lebih fleksibel dan otot secara keseluruhan menjadi lebih fleksibel. Kondisi ini bisa membantu mengurangi risiko ketidaknyamanan akibat otot tegang, kram dan nyeri.

Selain itu peregangan juga bisa membantu memobilisasi tulang belakang dan jaringan lunak di sekitarnya. Hal ini akan meningkatkan jangkauan gerak secara keseluruhan dan fluiditas dalam sendi.

3. Lebih siap melakukan kegiatan
Latihan peregangan secara rutin setiap hari membantu mempersiapkan tubuh untuk melakukan kegiatan fisik dan bekerja, serta memberi semangat tambahan bagi tubuh untuk beraktivitas.

detik.com

Minggu, 13 November 2011

Tips Makan Sedikit Dengan Efek Kenyang Seharian


Kalau mau tau gimana caranya makan sedikit tapi efek kenyangnya lama, ikuti tips berikut ini :

Perlahan dan Kunyah Dengan Baik
Ingat otak membutuhkan waktu 20 menit menyadari bahwa perut sudah kenyang. Pastikan makan perlahan dan mengunyah dengan benar untuk memperpanjang waktu makan.

Sepiring Salad Sebelum Makan
Makan salad sebelum makan makanan utama akan membuat cepat kenyang setelah makan.

Hindari Makan Di Malam Hari
Jika melewati waktu makan, ada kemungkinan akan makan berlebihan di waktu makan berikutnya. Makan dalam interval kecil (setiap 2 hingga 3 jam sekali) karena ini akan membantu tidak merasa terlalu lapar pada waktu makan. Juga, makan dengan porsi kecil tetapi sering akan membuat tubuh tetap aktif membakar beberapa kalori tambahan.

Piring Kecil
Saat menghabiskan makanan yang ada di piring, otak akan mengirimkan sinyal bahwa perut sudah kenyang. Jadi makan di piring yang lebih kecil akan memberi isyarat visual ke otak bahwa kita sudah kenyang dengan sepiring penuh makanan.

Ganti Buah Dibanding Jus
Buah yang masih utuh berisi air dan serat lebih banyak yang dapat membuat kita merasa lebih kenyang ketimbang memiliki buah yang sudah dijus.

High Fiber Food
Beberapa makanan tinggi serat akan memberikan rasa kenyang lebih cepat, meskipun memasok tubuh dengan kalori 20 persen lebih sedikit dari makanan serat rendah. Makanan tinggi serat contohnya biji-bijian seperti gandum, produk gandum, beras merah; buah-buahan seperti jeruk, apel, pir, jambu biji, lemon, jeruk, buah, buah delima; dan sayuran seperti bayam, brokoli, kubis, asparagus, paprika, wortel dan labu.

source : makanplus

ANTARA SEBUAH SENI DAN KEHARUSAN


Banyak manfaat di dalam parkour, satu kecil contohnya untuk membela diri menghindari perkelahian, tapi apakah selamanya kita menghindari perkelahian? jawaban gw "Tidak", karena bagi gw perkelahian tidak bisa dihindari dalam kehidupan kita sehari-hari, baik dalam perkelahian rumah tangga atau perkelahian di jalanan, ada beberapa contoh perbedaan dalam perkelahian.. perkelahian rumah tangga yang harus kita hadapi tidak dengan kekerasan tapi untuk menyelesaikan masalahnya, ada perkelahian yang mematikan, ada perkelahian demi gengsi, ada perkelahian membela diri atau membela orang di jalan, pentingnya self defense atau beladiri bagi kehidupan kita sangatlah HARUS kalau bagi gw.

Mungkin kalian sekarang belum memikirkan memilih beladiri apa yang tepat buat kalian, tapi nanti suatu saat jika kalian dihadapkan dalam situasi tersebut pilihannya lari, karena ada bebrapa factor seperti contohnya, gw masih lemah, gw gak mau mati mending lebih memilih jalan aman/safety, gw gak bisa beladiri, tapi ada juga yang mempertaruhkan gengsinya dan lebih baik memilih berkelahi daripada kabur walaupun tidak bisa beladiri, mudah-mudahan kalian tidak dihadapi dalam situasi seperti ini ya :), percuma punya mental baja tapi tidak punya kemampuan ilmu beladiri, iya gak? Hehehe…

Sesuai dengan mottonya Parkour, “Be strong to be useful” dan ada banyak versi untuk kita berlomba-lomba kebaikan yang kuat untuk menolong yang lemah sesuai dengan karakter dan kemampuan kalian masing-masing, memang sih di parkour tidak diajarkan berkelahi.. justru kita meminimalisir perkelahian, kalau bisa kita hindari kenapa harus melawan? tapi sampai kapan kita menghindar? masa ada wanita di copet kita kabur menjauh? kenapa tidak mengejarnya? takut copetnya membawa senjata tajam? atau dia lebih jago dari kita? makanya kita harus bisa self defense untuk bisa menolong orang lain dalam keadaan apapun!

Bukannya gw memprovokasi untuk harus berkelahi, pilihlah beladiri yang tepat dan jangan sampai mematikan lawan kita, hanya untuk melumpuhkan sementara saja dengan menyerang bagian-bagian yang tidak membahayakan.

Kalau masih penasaran tentang bagaimana membela diri dengan apapun cari aja ebook dengan judul "how to assasinated with anything"

“I have to defend myself, my friend and to protect my family” SEMANGAT teman..!!